Kooong Kisah tentang Seekor Perkutut None

  • Title: Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut
  • Author: Iwan Simatupang
  • ISBN: null
  • Page: 224
  • Format: Paperback
  • None

    • Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut ¦ Iwan Simatupang
      224 Iwan Simatupang
    • thumbnail Title: Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut ¦ Iwan Simatupang
      Posted by:Iwan Simatupang
      Published :2019-09-13T00:32:32+00:00

    About "Iwan Simatupang"

    1. Iwan Simatupang

      Iwan Simatupang dilahirkan di Sibolga, Sumatera Utara, 18 Januari 1928, dan meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970.Sastrawan yang pernah memperdalam antropologi dan filsafat di Belanda dan Perancis serta sempat meredakturi Siasat dan Warta Harian Ia dikenal dengan novel novelnya yang mengusung semangat eksistensialisme Merahnya Merah 1968 , Kooong 1975 mendapat hadiah Yayasan Buku Utama Departemen P dan K, 1975 , Ziarah 1969 , Kering 1972 Dua novel yang disebut terakhir diterjemahkan Harry Aveling ke dalam bahasa Inggris.Cerpen cerpennya dikumpulkan dalam Tegak Lurus dengan Langit 1982 , sedangkan puisi puisinya dalam Ziarah Malam 1993.

    328 thoughts on “Kooong: Kisah tentang Seekor Perkutut”

    1. Cerita tentang gerbong kehidupan yang penuh prahara, tragedi, kehilangan kehilangan yang pada akhirnya berujung pada sikap nrimo dan perasaan-perasaan yang plong. Mungkin begitulah rasanya ketika Pak Sastro menjalani hidup. Kooong hanyalah pengantar pada fase fase pencarian hidup yang disampaikan dengan sederhana oleh Iwan Simatupang. Kekuatan Iwan Simatupang adalah menggabungkan beberapa realita-meski-fiksi, bahasa mudah dan cenderung pendek-pendek dan memang dekat dengan hidup sehari-hari oran [...]


    2. Karya Iwan Simatupang yg pertama saya baca, cukup menyenangkan. Penuh kearifan lokal, mungkin karena saya emang orang desa jadi enggak terlalu menarik sih. Entah kenapa saya teringat O-nya Eka Kurniawan, dan membandingkannya, saya pikir Kooong lebih sederhana sekaligus lebih baik.


    3. Ini adalah buku pertama Iwan Simatupang yang kubaca. Memang bukan novel fenomenal darinya seperti Ziarah ataupun Tegal Lurus dengan langit. Tetapi novel Kooong sungguhlah unik dan sentilan. Hanya bermula dari hilangnya perkutut gule -perkutut yang tidak bisa berkooong milik Pak Sastro dari sangkarnya, semua kehidupan jadi gonjang-ganjing. Perkutut itu tidak istimewa sekali, bahkan cenderung biasa-biasa saja. Fisiknya biasa dan tidak bisa berkooong. Tetapi sejarah pembeliannya yang memorable memb [...]



    4. Kooong! bunyi apa itu? Seekor burung dan bunyinya yang menyeret bukan sahaja seorang manusia, malahan melibatkan kesan yang besar untuk sebuah perkampungan. Seakan berlaku kembara dalam mencipta misi mencari misteri kehilangan seekor burung yang merungsing beratus-ratus kepala bikin pusing.Karya Iwan Simatupang yang tidak pernah menghampakan kita.


    5. tentang kehilangan, pencarian, ketamakan, kesedaran dan keikhlasan terlalu banyak isi tersurat dalam naskah nipis ini yang boleh dijadikan teladan dalam kehidupan sehari2 "ajal adalah wewenang Tuhan, untuk setiap soal Tuhan telah menyediakan jawabnya" - Pak Sastro




    6. Suka betul aku pada buku ini. Apalagi sebuah narasinya di bagian akhir, yang kurang lebih berbunyi: bagaimana apabila hal yang kamu cari, ternyata tidak kamu inginkan lagi?


    7. Ini tentang Pak Sastro yang kehilangan perkutut dan memutuskan untuk mencari perkutut itu. Dan ternyata, setelah peristiwa itu ada banyak hal yang terjadi. Buku ini sederhana dan keren!


    8. #44 - 2014buku ketiga yang kubaca setelah Ziarah dan Merahnya Merah. seperti dua novel sebelumnya, tulisan Opung Iwan Simatupang ini sangat khas, pergerakan tokoh-tokohnya, juga sunyi yang samar-samar terasa. tapi Kooong ini lebih renyah, lebih mudah dikunyahmbaca Kooong ini seperti menarik kesadaran saya, bahwa hidup itu suatu proses mencari. mencari apa yang kita yakini. dan ke arah mananya itu yang menentukan kita sendiri.


    9. ini adalah pertama kalinya saya membaca karya Iwan Simatupang. dan saya suka sekali dengan cerita ini. secara garis besar bercerita tentang Pak Sastro yang kehilangan perkututnya. tapi, dalam cerita yang mengalir terdapat banyak sekali sindiran dan kiasan dalam kehidupan secara luas.terutama bagian dimana sahabat baiknya dengan blak-blakan mengungkapkan keinginannya yang mengincar harta pak Sastro. Lucu, menyindir juga menyimpan pesan yang mendalam.


    10. dengan gundah yang amat sangat lelaki itu pergi dari kampung halaman, mencari dan terus mencari apa yang lenyap dari genggamannya. telah larut ia dalam lara dan kehilangan hingga pada satu titik ia putuskan untuk melepas segala yang dimilikinya. pasrah. | "untuk tiap soal, Tuhan telah menyediakan jawabannya" hlm.18


    11. tapi saya suka buku yang saya baca kala SMA inii buku pertama saya mengikuti tulisan pak iwan simatupang, yang kemudian baru berani membaca kering dan merahnya merahims utk amang yang sudah mengingatkan adanya buku ini.


    12. Mungkin karena Iwan Simatupang banget, pola ceritanya jadi tertebak dan tidak semenarik ketika membaca Ziarah.


    13. Aduh kemana aja saya selama ini. Kenapa baru baca buku Almarhum Iwan Simatupang. Aaaargh. Nggak tahu mau komentar apa. Kelewat bikin saya speechless



    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *